Cari Blog Ini

Selasa, 10 Mei 2011

Rakyat Jelata

Rakyat Jelata: Serupa pijakan kakus, yang kultus ketika murus.

Menurut gue, ini adalah ungkapan yang cukup pas untuk menggambarkan kondisi rakyat atas kelakuan nakal para pejabat tinggi dan wakil rakyat di negara kalian saat ini (kalau di negara gue sih baek-baek semua bro, he2).

Jabatan (atau kalau bahasa majapahitnya: tahta) cukup menggiurkan untuk diperebutkan seperti lalat-lalat hijau mengerumuni mbelek lancung. Dengan strategi dan taruhan apapun, sesuai dengan lirik lagu bro Iwan Fals: Dunia politik dunia bintang, dunia hura-hura para binatang (para Oi, silakan dikoreksi kalau liriknya salah, lupa-lupa ingat soalnya.)

Pernahkah mengalami mules yang teramat sangat? Hal apa yang paling dicari saat itu? Yup. Toilet. Kakus. WC. Kali. Minimal kantong kresek, kalau kepepet. Seperti itulah rakyat diposisikan oleh begundal-begundal dan budak kekuasaan. Kalau lagi butuh, dicari-cari, dijanjikan ini itu, dirangkul dengan tingkat kemesraan melebihi rangkulan lembut kepada istri mudanya, diglembuki dengan janji-janji yang lebih puitis dari Chairil Anwar, dicekoki dengan harapan yang lebih memabukkan dari segalon tuak. Tapi kalau sudah nggak butuh lagi, ya tinggal disiram saja seperti eek di lubang jamban. Dan romantisme tingkat tinggi saat kampanyepun…brottt...pluung…blekutuk..blekutuk...Hilang!

Yah, nasib rakyat kecil yang diperalat para penjahat sembrono: sama seperti protagonis dalam sinetron indonesia, selalu tersiksa sepanjang episode, dan yang lebih memilukan seringkali skenario ini bertipe sad ending  yang abstrak.

Minggu, 08 Mei 2011

Persetan dengan Definisi #2

Perempuan cantik itu yang begini-begitu.
Laki-laki keren itu yang begini begitu.

Gue memprotes kriteria kaku yang diterapkan untuk menilai keindahan personal. Ini adalah kejahatan murahan atas pengkerdilan nilai universal penciptaan. Seakan-akan yang ada diluar blanko kuisioner adalah kotor dan cacat. Padahal kalian tahu? Para pendefinisi dan penilai yang seakan maha tahu arti yang terbaik itu sebenarnya memiliki kelemahan fatal: mereka buta kronis dan tak bisa melihat keragaman potensi ataupun variasi bakat yang tercetak secara jujur pada masing-masing jiwa. Setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Perbedaan ini adalah anugerah yang sangat pantas untuk disyukuri.

Penilaian yang cetek merupakan penyempitan dan kemunduran menyesatkan yang akan membusukkan peradaban. Ini adalah salah satu komedi paling tak lucu sepanjang sejarah keimanan. Duh Gusti, lindungilah kami dari anak panah beracun itu: Definisi yang mengkhianatiMu.

Persetan dengan Definisi #1

Kalau nulis artikel itu harus begini-begitu biar bisa disebut artikel.
Kalau bikin puisi yang benar itu harus begini begitu biar sesuai dengan buku petunjuk pembuatan puisi yang baik dan benar.
Kalau nyiptain lagu itu harus begini-begitu biar bermutu dan bisa dikategorikan pop, rock, jazz, dangdut atau campursari.
Lha pop itu sendiri adalah...
Rock adalah...
Jazz adalah...
Dangdut adalah...
Sedangkan Campursari adalah...

Gue benci terjebak pada pengkotakan karya. Definisi tentang sesuatu dibuat bukan untuk membunuh inti dari sesuatu itu sendiri. Kita memang harus belajar, tapi bukan berarti menjadi budak kisi-kisi buatan manusia biasa yang bukan Nabi, yang hidup hanya pada seupil bagian zaman, sedangkan perubahan tak pernah bisa ditahan.

Buat Lo yang memiliki benih kreativitas yang sedang berkecambah, teruskan menyiram saja, tak perlu terlalu merisaukan akan menjadi pohon apa kecambah itu nantinya. Kepada para pengarti yang dangkal: Persetan dengan definisi, aturan dan tetek bengek itu!

Cukup Kamar Lo Aja Yang Sempit, Jangan Pikiran Lo!

Jalan hidup nge-kost sudah lumrah untuk para mahasiswa yang kampusnya jauh dari rumah orang tua, beda kota, propinsi (atau provinsi sih? #bingung...#), nyebrang pulau, atau bahkan lintas negara. Tipe rumah kost pun beda-beda. Kalau yang tajir ya cari yang lux, kalau yang beranjak kaya ya dibawahnya dikit, kalau yang biasa-biasa kayak gue ya cari yang murah meriah, yang penting punya kehormatan diri lantaran turu ora nunut (oleh sebab tidur nggak numpang).

Karakter kamar yang murah meriah ini ya biasanya cuma terdiri dari satu kamar all in one (makan disitu-tidur disitu-ngerjain tugas ya disitu-pipis pup ya disitu-pokoknya ngapa-ngapain ya disitu). Ukuran standard mungkin 3x3 meter. Di atas geladak seluas 9 m2 itulah pertempuran dikendalikan serta lautan perkuliahan dan prosesi yang larut di dalamnya diarungi. Tapi lagi-lagi atas nama kebebasan menaruh cangkir bekas kopi, keleluasaan berapa minggu jeans kesayangan halal tak dicuci, serta kehormatan dan harga diri, ini mesti disyukuri bro, dari pada Lo nomaden, hayoh!

Coba bayangin, Lo iris bumi ini sedemikian rupa, Lo kuliti sehingga terbentanglah keraknya dalam bentuk seperti telor ceplok. Kemudian Lo cari deh posisi kost-an Lo dimana! Memang kueecil buanget perbandingannya kan Mas Mbak Bang Pak Bu... Tapi jangan salah, dari 27m3 (kalau tingginya 3 meter juga lho!) itulah tak jarang terbentuk produk jenius yang akan menundukkan dunia dibawah kibaran jeans bolongnya. Pribadi mulia yang ranting-ranting hijau kreativitasnya tumbuh jauh melebihi kapasitas kamar kost-nya. Ide segar dari darah muda yang wanginya mengalahkan bau apek celana dalam kotor yang tergantung di belakang pintu kamar yang tak pernah tertutup (nggak ada AC, panas kalau ditutup). Breakthrough tanpa saduran berjubah semangat membara yang tak pernah padam walaupun pada tanggal 5 kadang harus bersembunyi dari ibu kost yang menagih uang sewa dengan kalimat yang mengancam. Pemikiran setajam pedang dan kebijaksanaan seluas samudera yang akan mengembalikan dunia pada peradaban yang mendekati masyarakat surga.

Semuanya mungkin. Inilah yang abadi: Yang terjadi, terjadilah. Jadi buat Lo yang masih terduduk di sudut kamar kost-an, menerawangi pelangi melalui kaca jendela yang sedikit basah karena gerimis yang baru saja reda. Buat Lo yang merasa takut tapi berani untuk mengatasinya. Buat Lo yang sedang mencari jati diri dan jawaban atas segala pertanyaan. Buat Lo yang baru saja bangun dari tidur pulas diatas kasur yang berjarak tiga langkah dari pintu: Cukup Kamar Lo Aja Yang Sempit, Jangan Pikiran Lo!

Tukang Sapu

Ini yang tertuturkan dari seorang tukang sapu:
”Saya lulusan SMEA tahun 75. pada saat itu sebenarnya mudah mencari kerja. Saya juga ditawari untuk kuliah oleh orang tua angkat saya. Tapi karena ketololan saya, saya menolak, malah memilih hidup seenaknya. Pada akhirnya ya begini, hidup saya berantakan. Tapi hidup sudah ada bagiannya sendiri-sendiri. Saya tidak boleh mengeluh....”

Apa yang ada sekarang adalah ’akibat’ dari sebab terdahulu, sekaligus ’sebab’ dari akibat pada kemudian hari. Ini rangkaian kejadian beruntun yang terstruktur. Pada titik tertentu, kita akan dipaksakan oleh waktu untuk mensyukuri apa yang telah terjadi. Terkadang memandang realitas kemakmuran secara finansial pada sekelompok orang yang masih berada di bawah kita -tanpa terserta dalih apapun yang berujung pada penghinaan- membuat kita merasa lebih kuat untuk menghadapi hidup. Mungkin ada cara yang lebih baik, tapi paling tidak Ini penting untuk mempertahankan keberadaan akal sehat yang selalu terlibat pertempuran dengan sepasukan agitasi murahan.

Karena hidup akan dinilai dari model perilaku, kualitas pengambilan keputusan dan level kebijaksanaan menyikapi akibat, maka sudah sudah sewajarnya kita memandang apa yang terjadi dan apa yang kita miliki dari perspektif positif yang tak ada matinya: sesuatu ini yang terbaik, dan akan kita buat menjadi lebih baik. Mengeluh adalah tabiat cengeng yang tak akan menyelesaikan masalah, jadi benar kata temen gue si tukang sapu itu: ”Bila semua jadi pejabat, siapa yang jadi bawahannya, siapa yang jadi tukang sapunya. Saya percaya hidup akan terus bergulir.”

Setiap kita adalah selebritis yang sepanjang waktu disorot oleh kamera Tuhan Sang Wartawan: menghasilkan kebenaran berita tanpa jeda.  Tanpa  jeda.

Sabtu, 07 Mei 2011

Doa Ajaib #1

#Berdoalah, bahkan untuk hal-hal kecil yang sepertinya Lo anggap nggak penting#

Dalam keseharian kita, banyak hal yang terjadi. Diantara banyak hal itu, mungkin ada beberapa yang agak nyleneh (ataukah hidup kalian sangat normal?huh?!Ayolah, mari kita sedikit konyol. Ini Sehat!). Dengan kurang ajarnya, saat menghadapi yang pahit-pahit itu kita ingat sama Tuhan (kata malaikat: Nah lo, pas hepi-hepi Tuhan lo kemanain bro?).

Hmm...salah satu icon yang sering di-klik adalah aplikasi KuDA (Kumpulan Doa Ajaib). Setiap bagian dari KuDA ini bersifat personal, pemasarannya kemungkinan mirip dengan manajemen butik, dan tentunya tersedia dalam edisi yang terbatas.

Berikut ini adalah beberapa bagian dari KuDA yang masih gue ingat (cerita masing-masing insya Allah akan diposting lain waktu):

1.      Tuhan, keringkanlah celana dalamku.
2.      Tuhan, maafkan aku yang telah menyiram semut yang sedang berenang di toiletku.
3.      Tuhan, kumohon... ini jangan bintitan!
4.      Tuhan, kuinfakkan Rp.20.000,- ini, tapi kumohon Kamu gantiin secepatnya ya.
5.      Tuhan, sisakan tahu di tukang gorengan untukku, satuuu aja nggak papa.
6.      ...

Weisss... Jangan anggap remeh kekuatan doa bro. Jangan pernah. Jangan pernah Lo sepelein. Karena apa? Karena dengan berdoa, maka secara resmi bin sadar lo sudah positif melibatkan campur tangan Tuhan, dan itu keputusan yang baik.

Nah, apakah ada yang mau berbagi KuDA lainnya? Tunjukkan KuDAmu! J

Kamis, 05 Mei 2011

Dari TAIKO – Eiji Yoshikawa

Novel epik TAIKO setebal 1.142 halaman bertutur tentang perang dan kemenangan pada zaman feodal di Jepang pada abad ke-16. Tiga sosok besar yang muncul adalah Nobunaga, Hideyoshi, dan Ieyasu. Falsafah dan karakter ketiganya dicerminkan seperti ini:

Bagaimana jika seekor burung tak mau berkicau?
Nobunaga menjawab    : ”Bunuh saja!”
Hideyoshi menjawab     : ”Buat burung itu ingin berkicau.”
Ieyasu menjawab          : ”Tunggu..”

Cerita di TAIKO didominasi suasana peperangan. Tapi bukankah sepanjang hidup kita adalah juga perang? Setiap kita memiliki perangnya sendiri-sendiri. Kita terlibat di dalamnya, bisa menjadi prajurit, jenderal, atau hanya bukan siapa-siapa, sebenarnya tergantung dan kembali lagi kepada diri kita masing-masing. Point pentingnya adalah: Hal terbaik dalam perang bukanlah masalah menusuk dan menghajar lawan. Keterampilan ini memang berguna untuk prajurit biasa. Namun bagi seorang jenderal yang besar, ini hanyalah kemampuan terendah yang harus dimiliki.

Umur kita tidak terlalu panjang jika harus mengalami semua hal secara langsung dan personal untuk bisa memetik hikmah dari suatu kejadian. Keuntungan dari generasi sesudah adalah bisa belajar dari generasi sebelumnya. Sejarah. Maka beruntunglah orang yang diberkahi dengan kemampuan mendengar dan membaca cahaya rahasia dibalik segala cerita.